Selasa, 14 Juni 2011

Pendekatan Konseling Non-Direktif

  1. Biografi Carl Rogers
Carl Ransom Rogers lahir pada tanggal 8 Januari 1902 di Oak Park, Illinios, Chicago. Rogers meninggal dunia pada tanggal 4 Februari 1987 karena serangan jantung. Rogers adalah putra keempat dari enam bersaudara.
Carl rogers yang merupakan penemu pendekatan konseling dan terapi berbasis klien atau berbasis individu. Carl Rogers tumbuh dalam komunitas pedesaan di Midwest Amerika dan menganut agama Kristen Protestan yang keras. Sebagai penganut Kristen yang keras, Rogers sangat menentang aktivitas bersenang-senang seperti judi atau menonton teater. Sebagai gantinya Rogers menunjukkan minat pada ilmu pertanian dan melakukan percobaan terhadap kacang dan tanaman di usianya yang ke-14.
Pada usia yang ke-20, Rogers memutuskan untuk menjadi pendeta dan ia dikirim ke Cina untuk menghadiri World Student Christian Federation. Kontak yang dilakukannya dengan budaya dan kepercayaan lain telah mempengaruhi dirinya untuk menjauhi orientasi religius kedua orangtuanya yang rigid. Ketika harus memilih sekolah seminari, dia memilih sekolah yang memiliki aliran paling liberal: Union Theological Seminari. Akibat eksplorasi keimanannya dalam kelompok mahasiswa pemberontak (the equivalent of a student-led “encounter group”), Rogers mengubah karirnya dan mulai mengikuti pelatihan untuk menjadi seorang psikolog di Universitas Colombia, tempat dimana ia menemukan ide gerakan pendidikan progresif yang menekankan keyakinan bahwa kebebasan belajar dan tumbuh adalah sesuatu yang inheren dalam setiap anak atau siswa.
Kehidupan awal Rogers menunjukkan pengaruh agama dan sains berkumpul dalam karirnya sebagai terapis. Penghormatan terhadap kecermatan sains tergambar dalam keterlibatan beliau dalam riset, di mana beliau adalah salah seorang yang pertama kali membuat catatan sesi terapi, dan mengembangkan metode untuk menginvestigasi berbagai aspek dalam proses terapi. Pemikiran protestan berpengaruh dalam teori pendekatan berbasis klien yang tampak dalam penekanan terhadap kapasitas setiap individu untuk mencapai pemahaman terhadap nasibnya dengan menggunakan intuisi dan perasaan ketimbang dipandu oleh doktrin atau rasio. Pendekatan berbasis klien juga lebih berfokus pada perilaku dimasa kini ketimbang apa yang terjadi dimasa lalu. Sollod (1978:96) menyatakan bahwa protestanisme dalam pendekatan berbasis klien dapat dibandingkan dengan psikoanalisis dimana “kebenaran berada dalam alasan terlatih para terapis (Rabbi) dan dalam interpretasi Talmudiknya terhadap fenomena yang kompleks” .
Seiring dengan keberhasilannya mendapat gelar psikologi klinis, sebagian besar klien Rogers adalah anak dan remaja yang tergangu jiwanya beserta keluarga mereka, pada departemen study anak dalam Masyarakat Antikekerasan Terhadap Anak, Rocehester, New York. Walaupun ia juga menerima pelatihan psikodinamik dari Jessie Taf, salah seorang murid Otto Rank (Sollod, 1978) dan juga terpengaruh oleh ide Alfred Alder (Watts, 1998), dia tidak pernah mengidentifikasi dirinya dari pendekatan manapun. Selama di Rocehester 1928-1940 ia sangat terlibat dengan pendekatan yang dikembangkannya sendiri, dipandu oleh pandangannya tentang apa yang tampaknya dapat menolonh klien nya. Dalam karya klinis dan pengalamannya di Columbia, Rogers telah memunculkan nilai kultur Amerika, dan teorinya mengandung elemen konteks kultur tersebut.
Meadow (1964) mengatakan bahwa client-centered therapy (Terapi berfokus klien) telah mengadopsi “Norma Dasar Amerika” seperti ketidakpercayaa terhadap figure pakar, dan otoritas, lebih menekankan metode ketimbang teori, lebih menekankan tuntutan individual ketimbang berbagai tujuan sosial, kurang memperhatikan masa lalu, dan nilai independensi dan otonomi.Barret-Lennard (1998) bahkan menyatakan akan kemiripan antara pendekatan Rogers dengan filosofi pergerakan politik “New Deal” pada 1930-an di Amerika Serikat.
  1. Hakikat Manusia
Seseorang dalam pendekatan person-centred dilihat sebagai sosok yang bertindak untuk memenuhi kebutuhan pokoknya. Pertama, kebutuhan untuk aktualisasi diri. Dan, kedua adalah kebutuhan untuk dicintai dan dihargai oleh orang lain. Akan tetapi, sebagaimana yang dinyatakan oleh Maslow, kebutuhan tersebut terlihat sebagai kebutuhan biologis untuk bertahan hidup yang independen. Walau demikian, seseorang lebih sering dipandang sebagai makhluk yang terintegrasi melalui konsep ‘penilaian organisme’.
Ide konsep diri memiliki tempat utama dalam teori person-centred. Konsep diri individu dipahami sebagai atribut atau tempat merasakan apa yang dikatakan oleh orang-orang. Sebagai contoh, klien dalam konseling dapat mendefinisikan dirinya sendiri sebagai: “saya kuat, saya dapat marah. Kadang saya merasa rapuh”. Bagi orang ini, kekuatan, marah, dan kerapuhan merupakan bagian dari konsep diri, dan ketika ia merasa rapuh, marah, atau kuat, akan ada kongruensi antara perasaan, hasil, dan tindakan. Akan tetapi, jika individu ini tidak mendefinisikan dirinya sendiri dan pendefinisian tersebut dilakukan saat perasaan peduli tersebut dibangkitkan, maka dia tidak akan dapat menuangkan perasaan mendalam tersebut dalam kata-kata yang tepat, dan akan mengekspresikan perasaan atau dorongan tersebut dalam cara yang menyimpang.
Ide lain adalah dengan menghubungkan pemahaman cara konsep diri beroperasi dalam konsepsi ‘lokus evaluasi’. Rogers mengamati bahwa dalam proses pembuatan keputusan atau evaluasi berkenaan dengan isu yang ada, orang dapat dipandu serangkaian keyakinan dan sikap yang ditentukan secara eksternal, atau menggunakan perasaan dalam dirinya berkenaan dengan ‘proses penilaian organismik’ mereka.
Kepercayaan yang berlebihan terhadap evaluasi eksternal adalah sama dengan terus-menerus dipengaruhi oleh syarat kelayakan, sedangkan pendekatan person-centred terus memotivasi orang untuk menerima dan bertindak sesuai dengan evaluasi personal atau internalnya. Rogers memiliki pandangan yang positif dan optimistik terhadap kemanusiaan, dan percaya bahwa seseorang dengan kesadaran dan autentisitas diri akan membuat keputusan berdasarkan lokus evaluasi internal yang tidak hanya valid pada dirinya sendiri, tapi juga pada orang lain.
Konsep diri teori person-centred mengatakan bahwa seseorang tidak hanya memiliki konsep atau definisi diri ‘sebagaimana saya sekarang ini’, tapi juga ‘sebagai bentuk ideal yang saya inginkan’. Diri ideal merepresentasikan aspek lain terhadap kapasitas manusia untuk berjuang mendapatkan integrasi yang lebih besar. Salah satu tujuan terapi person-centred adalah untuk memungkinkan seseorang bergerak ke arah definisi diri idealnya.
Salah satu karakteristik unik citra person dalam person-centred adalah usahanya dalam mendeskripsikan seseorang yang berfungsi penuh. Ide individu yang diaktualisasikan atau difungsikan secara penuh representasikan elemen penting dalam usaha psikolog humanistik untuk menyusun alternatif bagi psikoanalisis. Freud, yang memiliki latar belakang medis dan psikiatri, menciptakan sebuah teori yang dimaksudkan untuk memahami dan menjelaskan patologi atau ‘penyakit’. Rogers, Maslow, dan kekuatan ketiga menganggap kreativitas, kebahagiaan, dan spiritualitas sebagai kualitas manusia instrinsik, dan berusaha menyertakan karakteristik tersebut dalam cakupan teorinya. Karakteristik seseorang yang berfungsi penuh adalah seseorang yang harmonis, dapat menerima dan menggunakan perasaan untuk memandu tindakan, dan juga lebih cenderung mandiri ketimbang tergantung pada orang lain.
Nilai penting citra person yang dianggap dalam pendekatan ini digarisbawahi dengan fakta bahwa keterkaitan aliran ini terhadap kepakaran teknis konselor menjadi kurang penting, dan utamanya berkonsentrasi kepada sikap atau filosofi konselor dan kualitas hubungan terapeutik (Combs, 1989).
  1. Perkembangan Kepribadian
  1. Struktur kepribadian
Struktur kepribadian dalam teori Rogers meliputi:
  1. Organisme adalah tempat semua pengalaman.
Segala sesuatu, yang secara potensial terdapat dalam kesadaran. Setiap saat, yakni persepsi seseorang mengenai event yang terjadi di dalam diri dan dunia eksternal. Organisme menanggapi dunia seperti yang diamati atau dialaminya (realitas) dan satu kesatuan sistem, sehingga perubahan pada satu bagian akan mempengaruhi bagian lain. Setiap perubahan memiliki makna pribadi dan bertujuan, yakni bertujuan mengaktualisasi, mempertahankan, dan mengembangkan diri.
  1. Lapangan Fenomena.
Lapangan fenomena meliputi pengalaman internal (persepsi mengenai diri sendiri) dan pengalaman eksternal (persepsi mengenai dunia luar). Lapangan fenomena juga meliputi pengalaman yang disimbolkan (diamati dan disusun dalam kaitannya dengan diri sendiri), disimbolkan tetapi diingkari/dikaburkan (karena tidak konsisten dengan struktur dirinya), dan tidak disimbolkan atau diabaikan (karena diamati tidak mempunyai hubungan dengan struktur diri).
Pengalaman yang disimbolkan disadari, sedangkan pengalaman yang diingkari dan diabaikan tidak disadari. Semua persepsi bersifat subjektif, dengan kata lain benar menurutnya sendiri. Medan fenomena seseorang tidak dapat diketahui oleh orang lain kecuali melalui inferensi empirik, itupun pengetahuan yang diperoleh tidak bakal sempurna.
  1. Self
Self merupakan satu-satunya struktur kepribadian yang sebenarnya. Dengan kata lain self terbentuk melalui deferiensiasi medan fenomena dan melalui introjeksi nilai-nilai orang tertentu serta dari distorsi pengalaman. Self bersifat integral dan konsisten. Pengalaman yang tidak sesuai dengan struktur self dianggap ancaman dan self dapat berubah sebagai akibat kematangan biologik dan belajar. Konsep self menggambarkan konsepsi mengenai dirinya sendiri, ciri-ciri yang dianggapnya menjadi bagian dari dirinya. Misalnya, orang mungkin memandang dirinya sebagai saya cerdas, menyenangkan, jujur, baik hari, dan menarik, Alwisol (2006: 322)

  1. Proses dan Teknik Konseling
Salah satu kontribusi yang dibuat oleh Carl Rogers dan para koleganya adalah memulai mempraktekan rekaman sesi konseling yang dapat digunakan untukr rujukan riset dan pengajaran. Brink dan Farber (1996), menyajikan analisis berbagai respon Rogers terhadap klien dalam beberapa kasus berikut ini:
  1. Menyajikan orientasi
Rogers cenderung memulai sesi dengan memberikan kesempatan kepada dirinya dan klien untuk memposisikan diri mereka terhadap tugas yang akan dilakukan. Misalnya, Rogers memulai sesi konseling dengan berkata, “sekarang, anda dapat duduk… saya butuh satu atau dua menit untuk dapat menkonsentrasikan diri saya, oke?... jadi mari kita berdiam satu atau dua menit (pause) apakah anda sudah siap?”
  1. Mengafirmasi perhatian
Biasanya Rogers membiarkan para kliennya mengetahui bahwa ia ada dan mendengarkan, dengan mencondongkan tubuhnya kedepan dan menggumamkan m-hm, m-hm atau mengangguk tanda setuju.
  1. Mengecek Pemahaman
Seringkali Rogers mengecek apakah pemahamannya terhadap apa yang diucapkan klien sudah benar.
  1. Menyatakan Kembali
Seringkali kalimat Rogers benar-benar merupakan pantulan dari apa yang diucapkan klien. Dalam kesempatan lain, pernyataan kembali dilakukan dalam bentuk pernyataan pendek yang mengklarifikasi inti dari pernyataan klien, sebagaimana contoh berikut:
Klien: Dan saya juga mengizinkan diri saya, dan saya tidak mengharapkan perhatian, kasih sayang atau apa saja, tapi anda tahu, saya seperti seorang anak kecil. Saya seorang anak kecil dalam hal suka disayangi, semacam resiprositas. Dan saya pikir, saya akan mulai mengharapkan hal tersebut tanpa harus menjadi dingin atau semacam itu. Tapi, saya juga berharap mendapatkan sesuatu sebagai imbalan.
Rogers: anda ingin cinta bersifat mutual.
Klien: tentu….tentu..
Adakalanya Rogers melakukan pengulangan tersebut dalam bentuk orang pertama, layaknya berbicara sebagai klien.

  1. Mengungkapkan perasaan klien yang belum dinyatakan
Respon ini menyatakan pembuatan referensi terhadap perasaan yang diekspresikan dalam perilaku non verbal atau kualitas suara, atau tidak secara dinyatakan secara langsung oleh klien.

  1. Memberikan Penguatan
Dalam kasus Gloria yang terkenal, terdapat beberapa saat penguatan. Misalnya:
Gloria: Saya tidak bisa mendapatkannya sessering yang saya mau… saya suka semua perasaan tersebut, semua itu sangat berharga bagi saya.
Rogers: Saya kira tak ada satu pun dari kita akan mendapatkannya sesering yang kita inginkan.
Adakalanya pula Rogers mengkomunikasikan penguatan dengan menyentuh klien atau merespons permintaan klien untuk dipegang tangannya.
  1. Menginterpretasika
Sesekali, Rogers membuat interpretasi, disebut sebagai perjalanan memnembus informasi yang akan segera disampaikan oleh klien.
  1. Mengkonfontasi
Terkadang Rogers mengkonfontasi seorang klien yang terlihat takut atau menghindari isu yang sulit atau menyakitkan.
  1. Mengarahkan Pertanyaan
Contoh dari respons ini adalah respons terhadap seorang klien yang merasa berbeda. Rogers memancing eksplorasi lebih jauh terhadap topic ini dengan menanyakan kepada orang tersebut, “dan apa perbedaan-perbedaan yang anda maksud?”.
  1. Balik Bertanya
Saat klien meminta bimbingan atau jawaban, sering kli Rogers mengembalikan pertanyaan tersebut kepada si peminta. Misalnya:
Gloria: Saya sangat sadar bahwa Anda tidak akan dapat memberikan jawaban kepada saya. Tapi saya ingin Anda membimbing saya atau menunjukkan kepada saya dimana saya harus memulai atau yang semisal, sehingga tak terlihat tak memiliki harapan.
Rogers: Jika saya boleh bertanya, apa ang Anda inginkan untuk saya ucapkan?
  1. Mempertahankan atau memecahkan kesunyian
Dalam beberapa sesi terlihat Rogers membiarkan kesunyian terjadi (dalam satu kesempatan, sampai tujuh belas menit lamanya). Dalam kesempatan lain, ia berusaha untuk memecahkan kesunyian tersebut.
  1. Membuka diri
Misalnya, kepada seorang klien, Rogers berkata, “Saya tidak tahu apakah ini menolong atau tidak, tapi ingin saya sampaikan adalah saya pikir saya dapat dengan jelas memahami mengapa Anda begitu tidak menarik di mata -orang. Sebab, ada suatu saat ketika diri saya juga merasakan hal yang sama. Dan saya tahu bahwa hal ini bisa menjadi hal yang sangat sulit.
  1. Menerima pembetulan
Ketika salah seorang klien menunjukkan salah satu respons Rogers tidak akurat, dia akan menerima koreksi tersebut, mencob lagi membuat hal tersebut benar, dan kemudian terus maju.
  1. Pandangan Mengenai Teknik Non-Direktif
Fase awal perkembangan pendekatan person-centered, tahun-tahun belajar (the school years) (Barrett-Lennard 1979), merepresentasikan prestasi unik dalam sejarah konseling dan psikoterapi. Antara tahun 1940 dan 1063, Rogers dan yang lainnya mengembangkan sebuah teori dan praktik yang konsisten dan koheren, yang diinformasikan dan dibentuk oleh riset yang terus berjalan. Pendekatan tersebut menjadi salah satu elemen yang paling penting dalam dunia konseling dewasa ini. Kemudian, kemunculan mendasar antara konseptualisasi tegang dan konseptualisasi alternative yang diwariskan oleh Rogers.
Salah satu isu ini memandang identitas pendekatan person-centered sebagai sebuah mode konseling yang berdiri sendiri.
Banyak konselor dan terapis yang menganggap diri mereka sebagai “client-centered” atau “person-centerd” hanya karena tujuan mereka terfokus pada pengalaman dan kebutuhan klien ketimbang memaksakan definisi dan struktur mereka sendiri, dan karena mereka menemukan bahwa ide yang tercakup dalam model kondisi inti merupakan kerangka kerja yang sangat berguna untuk memahami karakteristik hubungan terapeutik. Akan tetapi, nilai ini biasanya dikombinasikan dengan pandangan bahwa, ketika kondisi inti merupakan susatu keharusan, hanya mereka sendiri saja yang tidak cukup untuk membuat perubahan (Bohart, 1990; Tausch, 1990). Para konselor tersebut menggunakan kondisi inti sebagai basis penggunaan teknik terapeutik yang bersumber dari pendekatan lain.

Referensi:
Alwisol. (2004). Psikologi Kepribadian. Malang: UMM Press.
Djuhur I. & Surya Moh., 1975. Bimbingan dan Penyuluhan diSekolah. CV;ILMU: Bandung
Prayitno& Amti Erman. 1999. Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling.PT. Rineka Cipta Jakarta
A, Hellen. 2002. Bimbingan dan Konseling dalam Islam. Ciputat Press. Jakarta
Winkel, W.S.. 1001. Bimbingan dan Konseling di Institusi pendidikan. PT. Grasindo: Jakarta
Walgito, Bimo.1995 Bimbingan dan Penyuluhan DiSekolah. Andi Offset: Yogyakarta

0 komentar:

Poskan Komentar